EUIS SUNARTI

Membangun Ketahanan Keluarga dan SDM Indonesia Berkualitas

PENGEMBANGAN ECOVILLAGE: Jalan Mewujudkan Kehidupan Penduduk serta Lingkungan yang Berkualitas

March 4th, 2012

Euis Sunarti

Kepala Bagian Ilmu Keluarga, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia

 

ecovillage is family and community development model

Masalah dan Tantangan Pembangunan Perdesaan

Tantangan pembangunan di berbagai bidang di Indonesia semakin besar seiring meningkatnya tuntutan pemenuhan hak asasi manusia Indonesia untuk memperoleh kehidupan yang berkualitas, namun tanpa merusak lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Peningkatan kualitas kehidupan manusia hendaknya diperoleh dengan tetap menjaga atau mempertahankan lingkungan sehingga memiliki daya dukung yang optimal dan berkelanjutan. Semakin besarnya tantangan pembangunan juga berkaitan dengan ketatnya persaingan di berbagai aspek kehidupan di era globalisasi dewasa ini, ditambah dengan terjadinya penurunan secara nyata kualitas lingkungan dan sumberdaya alam yang diakibatkan tata kelola yang tidak mempertimbangkan keberlanjutan daya dukung alam bagi kehidupan manusia. Sebagian dari kejadian bencana alam yang terjadi di Indonesia belakangan ini terkait dengan pengabaian prinsip ekologi, yaitu prinsip yang menekankan saling keterkaitan dan ketergantungan -sehingga harus sinergis dan harmonis- antara manusia dengan lingkungannya.

Berbagai masalah pembangunan seperti kemiskinan, pengangguran, urbanisasi dan masalah kependudukan, mengarahkan berbagai pihak untuk melakukan percepatan dan pemerataan pembangunan, salah satunya dengan menurunkan ketimpangan kemajuan antar wilayah dan antara perkotaan dan perdesaan. Fakta menunjukkan bahwa masih banyak potensi alam yang umumnya terdapat di wilayah perdesaan, belum tergali dan termanfaatkan, demikian halnya masih banyak industri primer yang belum mendapat sentuhan nilai tambah ekonomi. Padahal penelitian menunjukkan bahwa peningkatan nilai tambah produk pertanian primer (second cropp) di beberapa negara dipercaya berhasil mengurangi kemiskinan, terutama kemiskinan di pedesaan dan di sektor pertanian.  Sementara itu di sisi lain banyak hasil kajian dan penelitian mengenai teknologi terapan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat yang belum diimplementasikan.

Kenyataan tersebut mendorong semua pihak untuk menggerakkan pembangunan pembangunan perdesaan dan pertanian.  Terlebih lagi fakta menunjukkan bahwa pertanian merupakan sektor ekonomi yang mampu bertahan di era krisis ekonomi. Sebagai salah satu upaya ke arah tersebut adalah melalui rancang bangun kawasan dan infrastruktur pedesaan yang dapat menciptakan suatau kawasan yang ideal, baik untuk kegiatan ekonomi produksi maupun sebagai kawasan pemukiman. Konsep tersebut dikenal dengan ecovillage yaitu konsep tata ruang dan wilayah yang memperhatikan kualitas penduduk dan kualitas ekologis, yang bersifat holistic karena melibatkan semua dimensi kehidupan makhluk hidup. Ecovillage merupakan pembangunan kawasan perdesaan yang mempertimbangkan pencapaian kualitas individu, keluarga, masyarakat serta kualitas lingkungan alam yang berkelanjutan. Dengan demikian diharapkan akan terjadi arus balik dari kota ke desa yang dapat mengurangi masalah kependudukan, masalah urbanisasi, masalah energi, serta masalah sosial perkotaan  yang makin kompleks.

Fakta menunjukkan bahwa secara umum, kondisi kawasan perdesaan masih tetap dicirikan oleh masih besarnya jumlah penduduk miskin, terbatasnya alternatif lapangan kerja, dan rendahnya tingkat produktivitas tenaga kerja perdesaan. Kondisi tersebut terkait berbagai kendala yang melekat seperti : 1) rendahnya tingkat penguasaan lahan pertanian oleh rumah tangga petani dan tingginya ketergantungan pada kegiatan budidaya pertanian (on farm), 2) lemahnya keterkaitan kegiatan ekonomi antara sektor pertanian dengan sektor industri pengolahan dan jasa penunjang serta keterkaitan antara kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan,  3) rendahnya tingkat pendidikan dan keterampilan masyarakat perdesaan, 4) rendahnya akses masyarakat kepada sumber permodalan dan sumber daya ekonomi produktif lainnya, dan 5) masih terbatas serta belum meratanya tingkat pelayanan prasarana dan sarana dasar bagi masyarakat.

Berbagai dokumentasi dan laporan melaporkan ketimpangan dan ketidakadilan pembangunan kawasan perdesaan.  Padahal  kawasan perdesaan merupakan kawasan yang memiliki fungsi sebagai tempat pemukiman, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.  Kegiatan ekonomi utama di kawasan perdesaan adalah pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam. Hal ini antara lain tercermin dari data ketenagakerjaan yang menunjukkan bahwa dari seluruh tenaga kerja yang bekerja di perdesaan pada tahun 2006 (57,3 juta orang atau 60,0 persen dari total tenaga kerja nasional), sebanyak 37,6 juta (65,7 persen) diantaranya bekerja di sektor pertanian (Sakernas 2006). Pengembangan perdesaan hendaknya bertumpu pada potensi desa yaitu kemampuan atau daya atau kekuatan yang memungkinan dikembangkan dalam wilayah otonomi desa. Oleh karenanya menjadi tantangan pembangunan nasional agar memiliki strategi utama  pembangunan desa sebagai pusat pertumbuhan. Demikian halnya strategi pembangunan perdesaan yang memperhatikan modal social yang ditunjukkan oleh tingkat integrasi social, kinerja institusi social,  dan adanya kepercayaan serta kemampuan penduduk memecahkan masalah sosial.  Kebijakan dan program pembangunan hendaknya  mengembangkan pendekatan yang berimbang dan saling mendukung, serta kesalingketergantungan seluruh aspek kehidupan antara kawasan perkotaan dan perdesaan, atau yang dikenal sebagai rural-urban linkage development approach.

Ecovillage sebagai Solusi Pembangunan Perdesaan

Pembangunan perdesaan hendaknya mengacu kepada konsep pembangunan wilayah yang selain memperhatikan semua fasilitas pemenuhan kebutuhan hidup penduduk yang berkualitas, juga memenuhi  pembangunan sarana infrastruktur pertanian dan perdesaan yang memadai. Hal tersebut menjadi penting, karena akan meningkatkan akses dan peluang bekerja, berproduktivitas, dan akan membuat penduduk betah untuk tinggal dan bekerja pada sektor pertanian dan industri di perdesaan.  Penataan kawasan dan pemukiman hendaknya dilakukan dengan menekankan efisiensi pengelolaan tata ruang dan lingkungan serta potensi sumberdaya lokal lainnya. Sementara itu pengelolaan produksi dan penggunaan energi mengacu kepada konsep ketahanan pangan untuk menjamin pemenuhan kebutuhan pokok pangan dan gizi penduduk.  Selain itu pengelolaan tata ruang dilakukan untuk mengatur kenyamanan penduduk (individu, keluarga, dan masyrakat) dengan memperhatikan aspek densitas, personal privacy dan territoriality, sekaligus  menjamin pemenuhan kebutuhan pokok lainnya seperti akses terhadap pelayanan  kesehatan dan kesempatan pendidikan.

Aspek lainnya dalam ecovillage adalah pemanfaatan dan penerapan teknologi untuk memecahkan masalah pemenuhan kebutuhan masyarakat yang mendesak seperti kecukupan energi, air bersih, sarana komunikasi, akses terhadap pasar, akses terhadap pengembangan IPTEKS, serta peningkatan kualitas dan nilai tambah komoditas ekspor dan komoditas konsumsi dalam negeri. Dikembangkannya teknologi tersebut di tingkat masyarakat akan meningkatkan kesiapan Indonesia menghadapi persaingan global, serta mendukung pemenuhan salah satu target Millennium Development Goals (MDGs) yaitu memerangi dan memangkas setengahnya kemiskinan sampai Tahun 2015.

Pembangunan pedesaan yang dicirikan oleh pemanfaatan kawasan berdasarkan  potensi yang tersedia, dengan pengelolaan yang memperhatikan keberlanjutan sumberdaya pedesaan dikenal dengan pengembangan ecovillage (kampung pedesaan). Ecovilage merupakan satu kesatuan antara pemukiman dan segenap unit usaha yang dikembangkan masyarakat, dilengkapi dengan prasarana dan sarana yang cukup untuk kehidupan sehari-hari dan untuk berusaha.  Pengelolaan usaha dan antar usaha dilakukan secara terpadu, sehingga sumberdaya kampung digunakan secara efesien. Usaha yang dikembangkan dicirikan oleh  pemanenan energi matahari, aliran energi yang efisien dianatara usaha pertanian dan non pertanian yang dikembangkan, meminimumkan input eksternal dalam pertanian dengan memanfaatkan penggunaan limbah biomassa untuk pertanian, dan praktek pertanian yang mengkonservasi tanah dan air.  Pemukiman dilengkapi dengan sarana dan prasarana umum dan sosial yang cukup, ditata dengan menonjolkan aspek kesehatan lingkungan, kenyamanan, dan keindahan.

 

Tujuan, Manfaat, dan Program Pengembangan Ecovillage

Pengembangan ecovillage dipandang penting karena memiliki berbagai tujuan dan manfaat. Pertama, sebagai jalan keluar ketimpangan dan ketidakseimbangan pembangunan wilayah perkotaan – perdesaan dengan mengembalikan kehidupan perdesaan yang nyaman dan menyediakan kesempatan dan peluang usaha bagi terpenuhinya kebutuhan dasar serta kebutuhan berkembang penduduknya. Kedua, sebagai upaya untuk menurunkan kepadatan di perkotaan, menurunkan urbanisasi dan segala konsekuensinya melalui pemerataan pembangunan dan peningkatan kualitas kehidupan di perdesaan.  Ketiga,  sebagai upaya optimalisasi sumber daya alam dan efisiensi penggunaan bahan bakar, sehingga mendorong kemandirian energi masyarakat perdesaan. Dengan demikian  diharapkan akan Upaya meningkatkan kualitas kehidupan individu, keluarga dan masyarakat, khususnya yang tinggal di perdesaan. Dari sisi kelembagaan, kegiatan ini merupakan bentuk peningkatan sumbangan keilmuan terhadap pembangunan pedesaan dan pertanian, sebuah wahana yang sudah sepatutnya dilakukan IPB sebagai institusi pendidikan terdepan dalam pembangunan perdesaan dan pertanian

Untuk mencapai tujuan dan manfaat yang diharapkan, maka perlu pengejawantahan ruang lingkup ecovillage kedalam program-program utama. Beberapa program utama dalam pembangunan ecovillage adalah :

  • Mengembangkan model tata ruang dan landscaping kawasan perdesaan dalam penyediaan ruang (space) yang mendukung pemenuhan pokok penduduknya
  • Mengembangkan model optimalisasi transformasi dan transaksional materi dan energi dalam pemenuhan kebutuhan dasar individu, keluarga, dan masyarakat;
  • Merumuskan strategi yang tepat dan efektif dalam penyelesaian masalah kemiskinan di perdesaan melalui: (1) mengembangkan model ekonomi wilayah yang mendukung penyediaan lapangan kerja dan kesempatan berusaha (terutama bagi keluarga miskin) baik melalui peningkatan produktivitas dan penggalian potensi sumberdaya alam lokal, maupun melalui peningkatan nilai tambah kegiatan ekonomi masyarakat; (2) penerapan teknologi tepat guna bagi peningkatan nilai tambah produk primer dan turunannya; (3) mengembangkan sistem kelembagaan, sarana dan prasarana, serta infrastruktur perdesaan dan pertanian  yang mendukung pembangunan berkelanjutan; (4) mengembangkan model peningkatan ketahanan dan pemberdayaan keluarga serta pemberdayaan masyarakat, salah satunya melalui sistem pembinaan dan pendampingan pembangunan kawasan perdesaan mandiri dari aspek ekonomi, teknologi, sosial dan budaya, serta meliputi bidang pertanian, peternakan, perikanan, dan industri.
  • Merancang desain material dan sistem thermal eco-house yang memenuhi syarat-syarat yang mendukung kenyamanan (kedap suhu, kedap air, kedap suara, serta aspek ergonomika) hidup individu dan keluarga, serta penghematan energi rumah tangga.
  • Merancang optimalisasi sumber daya alam perdesaan bagi penyediaan daya dukung materi dan energi bagi masyarakat melalui teknologi, sarana-prasarana, serta infrastruktur yang memadai.

Berdasarkan luasnya  dimensi, ruang lingkup, serta tujuan dan program pengembangan  ecovillage, maka dipandang perlu adanya landasan dan kerangka kerja pengembangan ecovillage yang holistic, komprehensif, dan integratif.

 

Naskah Akademis: Langkah Awal Pengembangan Ecovillage

Naskah Akademis Pengembangan Model Ecovillage ini dimaksudkan untuk menyediakan landasan teoritis dan kerangka kerja ecovilage dari beragam sudut pandang keilmuan.  Hal tersebut diharapkan dapat menjadi landasan implementasi pengembangan ecovillage di lapangan. Luasnya ruang lingkup dan dimensi ecovillage, sehingga naskah akademis ini disusun oleh tim ahli dari  berbagai disiplin keilmuan, multi-departemen serta multi-fakultas di Institut Pertanian Bogor. Para penulis terdiri dari keahlian: pengembangan wilayah; ekonomi perencanaan wilayah; pertanian terpadu (budidaya pertanian, agribisnis, peternakan, perikanan, kehutanan, dan teknologi pertanian); arsitektur lanskap; kelembagaan, komunikasi dan pemberdayaan masyarakat; ekologi manusia; ekologi keluarga; pemberdayaan ekonomi keluarga; ketahanan pangan, gizi dan kesehatan masyarakat; teknologi berbasis sumber energy terbarukan; dan pakar ecohouse.

Naskah akademis “Pengembangan Model Ecovilage. Pembangunan Kawasan Perdesaan serta Peningkatan Sumbangan Pertanian dalam peningkatan Kualitas Hidup Penduduk Perdesaan” ini terbagi kedalam tiga bagian. Bagian pertama, berkaitan dengan dimensi kewilayahan terdiri dari empat tulisan mengenai:  (1) perencanaan dan pengembangan wilayah, (2) konsep tata ruang dan elemen lanskap, (3) perencanaan ekonomi wilayah,  dan (4) pemanfaatan teknologi berbasis sumber energi terbarukan.  Bagian kedua, berkaitan dengan pembangunan pertanian terpadu terdiri atas:  (1) sistem pertanian terpadu, (2) pengembangan peternakan rakyat, (3) pengembangan perikanan rakyat, (4) pengembangan hutan rakyat, (5) pemanfaatan teknologi pascapanen dalam upaya pemenuhan kebutuhan  bahan pangan, dan (6) faktor-faktor produksi dan perencanaan usahatani. Bagian ketiga, berkaitan dengan dimensi sosial yang terdiri atas enam tulisan mengenai (1) ekologi manusia, (2) ekologi keluarga, (3) pemberdayaan ekonomi keluarga, (4) gizi dan kesehatan masyarakat, (5) perumahan berbasis ekologis, dan (6) kelembagaan dan organisasi kemasyarakatan.

Tulisan-tulisan yang menggambarkan dimensi kewilayahan ecovillage menekankan dimensi ruang dan wilayah dalam meningkatkan kualitas kehidupan penduduk dan kualitas lingkungan. Hal tersebut menekankan pada upaya penataan suatu tapak (site) baik berskala mikro atau makro berorientasi pada pembentukan karya yang secara estetika memiliki nilai keindahan dan secara fungsional berdaya guna, serta mempertimbangkan aspek ekologi, sosial-budaya, ekonomi, dan teknik agar terbentuk kampung yang menyediakan ruang bagi segenap aktivitas penduduknya. Hal tersebut dipadukan dengan pertimbangan ekonomi wilayah yang berorientasi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan yaitu berupaya memanfaatkan secara optimal sumberdaya alam di kawasan ecovillage tanpa harus mengeksploitasi sumberdaya alam dan mengorbankan keterkaitan ekosistem dan ekologi. Demikian halnya pentingnya rancang bangun infrastruktur  perdesaan serta pemanfaatan teknologi berbasis sumber daya energy terbarukan setempat (SET) agar dapat dimanfaatkan untuk kegiatan produktif.  Oleh karenanya diperlukan perencanaan dan pengembangan wilayah yang  memadai.

Tulisan-tulisan pada bagian kedua menguraikan bahwa sistem pertanian terpadu -baik keterpaduan kegiatan pertanian secara horizontal maupun secara vertical- yang menekankan prinsip ekologis, merupakan komponen penting dalam ecovillage. Penetapan satu atau lebih dari beberapa model system pertanian terpadu yang dimungkinkan dikembangkan dalam ecovillage hendaknya dilakukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan nilai ekonomi, dampak terhadap lingkungan, dan kekhususan lokasi. Tantangan pengembangan model peternakan organic, berbagai alternative pemecahan masalah di sector peternakan dan budidaya pertanian, dan pengembangan serta pemanfaatan teknologi pertanian merupakan solusi terhadap berbagai masalah dan issue yang dihadapi sector pertanian selama ini. Sumbangan pertanian khususnya kehutanan juga mendorong dilakukannya pemetaan antara kebutuhan akan, dan kemampuan untuk memenuhi pangan dan energy per satuan wilayah yang dilabel dengan ecovillage.

Tulisan-tulisan pada bagian ketiga diawali oleh uraian mengenai munculnya kesadaran manusia untuk menjalani kehidupan ramah lingkungan sebagai serta kesetimbangan pertukaran energi, materi, dan informasi antara manusia dan lingkungannya. Satuan pengambil keputusan aksi pertukaran tersebut bisa berlangsung pada level individu, maupun pada level keluarga sebagai sistem sosial terkecil yang memiliki beragam fungsi untuk mencapai kehidupan keluarga yang sejahtera dan berkualitas. Olehkarenanya pemberdayaan dan peningkatan ketahanan keluarga menjadi penting, khususnya pemberdayaan ekonomi keluarga. Salah satu optimalisasi transaksi energi keluarga dengan lingkungannya dapat diwujudkan dengan pembangunan rumah yang menggunakan material ramah lingkungan dan hemat energi yang dikenal dengan ecohouse.  Dari sudut pandang organisasi dan kelembagaan, pengembangan ecovillage dapat dipandang sebagai pendekatan untuk mengembangkan masyarakat dan desa agar keluar dari jebakan crisis ekonomi, sosial, dan ancaman bencana ekologis. Disinyalir bahwa masyarakat sekarang menghadapi degradasi kapasitas pengorganisasian pemerintah mengelola pembangunan sehingga selalu tertinggal dalam akses penyediaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana dasar yang diperlukan untuk menyangga kehidupan.

 

Ciri sekaligus Tantangan dalam Pengembangan Ecovillage

Berbagai ciri atau prasyarat sebuah wilayah terkategori sebagai ecovillage akan sekaligus menjadi tantangan dalam pengembangan ecovillage itu sendiri. Sebuah ecovillage bisa terdiri dari 150  sampai 2000 individu, terkait jejaring social yang dimungkinkan terbangun dalam komunitas tersebut. Menurut Gilman (1991) satuan ecovillage adalah skala dimana setiap individu dapat mengenali dan dikenali komunitasnya, dan sejauh mana setiap individu dapat memiliki peluang mempengaruhi yang lainnya. Anggota masyarakat ecovillage disatukan oleh kesamaan secara ekologis, social ekonomi, dan nilai spiritual dan budaya.  Sebuah kampung yang terkategori ecovilage, biasanya diisi oleh orang yang peduli akan kelestarian lingkungan, dengan berupaya mengoptimalkan transaksi materi dan energy dengan lingkungannya. Kampung yang terkategori ecovilage diisi oleh orang-orang yang berusaha keras melakukan penghematan energy, diantaranya adalah dengan memilih system alternative pengelolaan sampah, air, dan listrik secara mandiri. Kebalikannya adalah komunitas yang gaya hidupnya konsumtif, melakukan berbagai hal yang berdampak terhadap perusakan habitat alami, dan terlalu mengandalkan bahan bakar fosil (minyak bumi, gas, batubara).

Tidak mudah untuk mewujudkan ecovillage, karena beragam tantangan yang  menyertainya.  Bagi sebagian orang, mewujudkan ecovillage laksana mimpi. Oleh karenanya menurut  Gilman, R. (1991) terdapat tantangan bagi warga masyarakat yang ingin mewujudkan ecovillage yaitu : 1) warga secara bersama-sama membangun terwujudnya mimpi ecovillage, 2) mengembangkan visi ecovillage dan memeliharanya, 3) membangun hubungan dan ikatan antara warganya, 4) mencari bantuan dari luar untuk mandiri, 5) memelihara keseimbangan dan keberlanjutan, dan 6) membangun karakter masyarakat yang terbuka dan jujur. Ecovilage menuntut keterampilan hidup bersama dalam suatu tempat.  Ecovillage merupakan Full featured settlement  yaitu  tempat tinggal yang sebagian besar fungsi kehidupan normal , memadainya penyediaan pangan, adanya industri, fungsi rekreasi dan kehidupan social, dan aspek komersial tersedia secara proporsional. Hal tersebut tidak berarti bahwa ecovillage harus mandiri dalam pemenuhan semua kebutuhan penduduknya.  Ecovillage menuntut penyediaan lapangan pekerjaan yang dapat mengimbangi penduduk usia kerja,  dan tersedianya spesialisasi pekerjaan demikian pula keseimbangan kehidupan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Ciri atau prinsip penting lainnya dalam ecovillage adalah adanya siklus penggunaan sumberdaya materi yang  membawa kepada penggunaan sumberdaya energy terbarukan  (cahaya matahari, angin, air)  dibandingkan penggunaan bahan bakar bersumber fosil; diberlakukannya composting sampah organis, dan sistem komunitas berkelanjutan.

Menurut Fickeisen, D.H (1991) terdapat keterampilan hidup yang dituntut dimiliki warga ecovillage adalah menghormati perbedaan dan keragaman, nilai kepahlawanan, memahami beragam gaya kepribadian dan  gaya pembelajaran individu, pembangkitan dan pemeliharaan motivasi, pemahaman dan keterampilan terkait proses pembentukan kelompok, terkait partisipasi dan pengaruh dalam kelompok, pengakuan dan kepatuhan terhadap tugas. Demikian halnya dengan keterampilan hidup mendasar lainnya seperti pengambilan keputusan,  keterampilan komunikasi,  resolusi konflik, kepemimpinan dan pengelolaan. Semua keterampilan hidup tersebut bersatu dalam kehidupan sebuah kampung ekologis.

Tantangan dalam pengembangan ecovillage lainnya adalah pengintegrasian seluruh komponen dan dimensi kehidupan serta keterkaitannya dengan keterjaminan lingkungan berkelanjutan dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan regular. Dibutuhkan koordinasi, konsolidasi yang sinergis dan harmonis antar semua komponen pelaksana pembangunan. Padahal berbagai pihak menengarai sulitnya koordinasi antar sector dalam perencanaan apalagi dalam pelaksanaan pembangunan di lapangan. luasnya dimensi ecovillage serta bayangan akan kesulitan teknis dalam upaya pengembangan dan pembangunannya, membuat sebagian pihak menganggap bahwa konsep ecovillage hanyalah sebuah mimpi. sesuatu yang ideal yang sulit  atau mustahil dijangkau. ditengah sikap fesimis sebagian pihak tersebut,  naskah akademis ini hadir.

Mengingat luasnya ruang lingkup ecovillage, tentunya masih terdapat aspek dan dimensi ecovillage yang belum tertuang dalam buku ini. Olehkarenanya diharapkan pada kesempatan berikutnya dapat dikeluarkan buku edisi revisi sebagai hasil penambahan atau pengayaan ruang lingkup serta kerangka kerja terkait ecovillage.  Sebagai langkah awal, semoga buku ini memberi landasan dan kerangka kerja bagi pengembangan wilayah perdesaan berbasis ekologis yang disebut ecovillage.

Sumber Acuan :

Fickeisen, Duane H. 1991. Skills for Living Together. Tools for Better Understanding Yourself and Others in Your Community and How to Get Where You Want to Go. www.wikipedia.com diunduh Mei 2009

Gilman,  Robert . 1991. The Eco-village Challenge. The Challenge of Developing a Community Living in Balanced Harmony –with itself as well as nature- is tough, but attainable.  www.wikipedia.com diunduh Mei 2009

Sakernas 2006.

 

EUIS SUNARTI

Membangun Ketahanan Keluarga dan SDM Indonesia Berkualitas