EUIS SUNARTI

Membangun Ketahanan Keluarga dan SDM Indonesia Berkualitas

KERAGAAN PEMETIK TEH WANITA: SOSIAL EKONOMI, KETAHANAN KELUARGA, KONSUMSI PANGAN, PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK - EUIS SUNARTI

KERAGAAN PEMETIK TEH WANITA: SOSIAL EKONOMI, KETAHANAN KELUARGA, KONSUMSI PANGAN, PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK

March 4th, 2012

RINGKASAN

Woman plantation, child growth, social economic

Perbaikan gizi dipandang sebagai entry point upaya pengentasan kemiskinan dan upaya perolehan hidup berkualitas.  Oleh karenanya terbebasnya dari kelaparan dan masalah gizi merupakan hak dasar setiap umat manusia. Dalam dekade terakhir banyak kemajuan dalam memahami kompleksnya interaksi antara faktor biologi dan perilaku yang mempengaruhi status gizi. Interaksi positif antara pengasuh dengan anak dikaitkan dengan kecukupan lingkungan untuk anak tumbuh dan berkembang (Pelletier, 1995).  Banyak penelitian menunjukkan  bahwa pertumbuhan fisik anak dipengaruhi oleh interaksi antara beragam intervensi psiko dan intervensi gizi (Myers, 1992). Hasil penelitian selama lebih 20 tahun  telah menunjukkan bahwa pemecahan masalah gizi pada anak tergantung tiga faktor utama yaitu ketahanan pangan individu, akses terhadap layanan kesehatan, dan ketersediaan perilaku pengasuhan “care” yang memadai (Engle, Menon & Hadad, 1997), ketiga faktor tersebut beroperasi di tingkat keluarga dan masyarakat (Shrimpton, 2006);  sehingga penting untuk memberi perhatian bagaimana meningkatkan kapasitas keluarga yang memiliki posisi penting sebagai institusi utama dan pertama dalam pembangunan sumberdaya manusia.

Pada sebagian masyarakat seperti keluarga wanita pemetik teh, fungsi pengasuhan anak menjadi tantangan karena sebagian besar waktunya digunakan untuk mencari nafkah.  Dalam situasi tersebut dituntut dinamika keberfungsian keluarga yang melibatkan pemanfaatan sumberdaya yang dimiliki/dikuasai/diakses keluarga, untuk memenuhi kebutuhan keluarga, seiring beragam masalah yang dihadapi keluarga. Kemampuan keluarga untuk mengelola sumberdaya untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga seiring dengan masalah yang dihadapi keluarga atau disebut dengan ketahanan keluarga (Sunarti, 2001). Berkaitan dengan hal tersebut, maka dipandang penting untuk mengkaji ketahanan keluarga pemetik teh wanita dalam kaitannya dengan pemenuhan fungsi pemenuhan kebutuhan konsumsi pangan dan pengasuhan agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal.

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ketahanan keluarga wanita pemetik teh, dengan  mengelaborasi status sosial ekonomi keluarga, konsumsi pangan, praktek pengasuhan anak, serta tumbuh kembang anak. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengidentifikasi keragaan  dan ekonomi keluarga wanita pemetik teh; 2) menganalisis ketahanan keluarga wanita pemetik teh; 3) menganalisis nilai dan  pengasuhan anak pada keluarga wanita pemetik teh; 4) menganalisis pertumbuhan dan perkembangan anak dari keluarga wanita pemetik teh; dan 5) menganalisis faktor risiko dan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak di keluarga wanita pemetik teh

Desain penelitian adalah cross sectional. Penelitian dilakukan di  Kabupaten Bandung yaitu di perkebunan teh PTPN VIII wilayah Pangalengan (kebun Malabar, Purbasari, Talun-santosa, Sedep) dan kebun Rancabali, Ciwidey. Pengambilan data dilakukan pada bulan Desember 2007 –Januari 2008.  Contoh adalah 500 pemetik teh wanita dan anaknya yang berusia di bawah enam tahun (usia dini) yang dipilih secara acak sederhana. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner. Pada umumnya instrumen penelitian yang digunakan merupakan hasil pengembangan dari instrumen yang sudah established, yaitu ketahanan keluarga (Sunarti 2001), lingkungan pengasuhan (Caldwell & Bradley, 1984), sementara instrumen pengasuhan anak dikembangkan dengan menggunakan construct variable (content validity) dari pengasuhan dimensi kehangatan (Rohner, 1986), dimensi pengarahan Baumrind (Bern, 1997), dimensi melatih emosi (Gottman & DeClaire, 1997). Instrumen perkembangan anak menggunakan instrumen program BKB (Bina Keluarga Balita).

Data yang dikumpulkan meliputi data karakteristik keluarga, ketahanan keluarga, konsumsi, sanitasi dan higiene, nilai anak, pengasuhan anak dengan dimensi arahan (direction dimension), dimensi emosi (emotional dimension), dimensi kehangatan (warmth dimension), dan lingkungan pengasuhan (HOME, Home Observation for Measurement of Environment), data terkait status gizi (data umur, BB, TB),  dan data prestasi perkembangan anak (psikomotor, komunikasi, kecerdasan, dan sosial).  Pertumbuhan anak diukur baik secara antropometri (BB/U, TB/U, BB/TB) maupun dari tingkat kecukupan konsumsinya (energi, protein, vitamin A, vitamin C, dan zat besi). Ukuran antropometri (BB/U, TB/U, BB/TB) masing-masing dikategorikan menjadi dua yaitu status gizi normal (-2≤ Z skor ≤ 2) dan tidak normal (Z skor < -2 atau Z skor > 2). Peubah penelitian umumnya memiliki reliabilitas yang baik yaitu dengan nilai alpha-cronbach sama atau lebih besar dari 0.7. Demikian halnya dengan validitasnya, instrumen ketahanan keluarga, pengasuhan anak, pertumbuhan dan perkembangan anak yang digunakan memiliki validitas yang baik setelah diuji melalui exploratory factor analysis (EFA) dan confirmatory factor analysis (CFA).  Untuk menjawab tujuan, data dianalisis secara deskriptif dan analisis inferensia. Analisis inferensia menggunakan uji korelasi Spearman, uji regresi logistik dan OR (odd ratio) untuk analisis faktor risiko, dan uji pengaruh dengan menggunakan model persamaan struktural (SEM, Structural Equation Modelling) Lisrell (Linear Structural Relationship).

Hasil penelitian menunjukkan 97.4% contoh pemetik teh wanita dan suaminya memiliki lama sekolah di bawah 9 tahun. Pendapatan keluarga contoh per bulan berkisar antara Rp155.833,33–Rp 2.799.166,67 dengan nilai rataan Rp 838.584, sedangkan pendapatan per kapita per bulan berkisar antara Rp 23.690,5 – Rp 466.527,8 dengan nilai rataan  Rp193.580. Contoh pemetik teh wanita rata-rata menyumbang 43.2% pendapatan keluarga, suami menyumbang 50.9%, sisanya (5.9%) merupakan sumbangan pendapatan dari anggota keluarga lainnya.  Dengan mengacu garis kemiskinan Jawa Barat 2007 untuk wilayah pedesaan yaitu Rp144.204/kapita/bulan, masih terdapat 25.8% (proksi pengeluaran) atau 31.6 % (proksi pendapatan) keluarga yang tergolong miskin. Jika menggunakan kriteria kemiskinan Bank Dunia 1 US$/kap/hari, maka 83.8% contoh tergolong miskin, bahkan semuanya tergolong miskin jika menggunakan kriteria kemiskinan Bank Dunia 2 US$/kap/hari.  Rata-rata pengeluaran per kapita untuk pangan adalah Rp134.022 (72.1% pengeluaran) dan pengeluaran untuk non-pangan adalah Rp30.971 (27.9% pengeluaran).

Persentase terbesar contoh (56.6%) memiliki keluarga kecil (jumlah anggota ≤4 orang).  Masih terdapat anggota keluarga dengan usia lebih besar dari 15 tahun yang tidak bisa membaca (21.7%) dan tidak dapat menulis (22.8%). Keluarga contoh memiliki keterikatan yang erat dengan perkebunan karena umumnya suaminya juga sama-sama bekerja di perkebunan (74%), demikian halnya ibu (14.2%), ayah (9.6%), juga saudara (25.4%), dengan lama bekerja yang sangat bervariasi, bahkan ada yang sudah bekerja selama 47 tahun. Hampir seluruh contoh (98%) menempati rumah kebun, dan sebanyak 31.2% contoh telah menempati rumah dengan kepadatan (densitas) yang memenuhi syarat tempat tinggal sehat yaitu ≥8m2/kapita. Hasil uji beda menunjukkan tidak terdapat perbedaan nyata antar lokasi penelitian dalam hal lama pendidikan contoh, suami, pendapatan per kapita dan densitas, dan beberapa peubah penelitian lainnya.

Hasil uji hubungan antar komponen ketahanan keluarga, antar sub-variabel pengasuhan anak, antar dimensi perkembangan anak, dan antar tingkat konsumsi menunjukkan adanya konsistensi dan pemaknaan hubungan yang baik dengan koefisien korelasi yang tinggi.  Uji validitas dengan menggunakan exploratory factor analysis yang dilakukan terhadap semua sub-variabel menguatkan pengelompokan masing-masing sub-variabel bergabung kepada variabel induknya (ketahanan keluarga, pengasuhan, perkembangan, tingkat konsumsi). Hal tersebut dikonfirmasi oleh confirmatory factor analysis dengan nilai GFI (Goodness of Fit Index) yang baik. Tingkat kecukupan protein dapat mewakili tingkat kecukupan energi karena nilai korelasi yang sangat tinggi.

Di antara ketiga ketahanan keluarga (fisik, sosial, psikologis), rata-rata pencapaian ketahanan fisik adalah paling rendah, sementara ketahanan sosial paling tinggi. Persentase terbesar ketahanan fisik dan psikologis contoh terkategori sedang, sementara persentase terbesar ketahanan sosial terkategori tinggi. Secara umum nilai anak dimensi sosial, psikologis, religius dan ekonomi sangat tinggi, namun masih terdapat bias gender terkait nilai psikologis dan ekonomi. Terkait praktek pengasuhan, setengah masih mempraktekkan gaya pengasuhan arahan (51%) dan gaya pengasuhan emosi (53%) yang kurang memadai. Ditemukan masih tingginya ibu yang mengaku kurang memberi pujian (51.8%), suka mengomeli anak (89.8%), menakuti atau mengancam anak ketika berbuat kurang tepat (74.4%), mengeluhkan anak kepada orang lain padahal anak mengetahuinya (49.2%), juga masih terdapat 24.2% ibu yang tidak berbicara kepa anak dengan cara hangat dan penuh cinta.  Lingkungan pengasuhan anak 0-3 tahun lebih rendah dibandingkan anak 3-6 tahun. Lingkungan pengasuhan anak usia 3-6 tahun mengalami perbaikan seiring meningkatnya peran TPA (tempat penitipan anak) di perkebunan dalam menstimulasi bahasa dan akademik anak.

Rata-rata tingkat konsumsi pangan anak masih kurang, yaitu 85% dari angka kecukupannya. Hampir 40% contoh masih kekurangan energi dan protein. Prevalensi status gizi kurang (Z-skor < -2) berdasarkan indikator BB/U, TB/U dan BB/TB, masing-masing adalah 21,8%; 53,0% dan 9.2%. Hasil analisis rata-rata nilai Z-skor berdasarkan kelompok umur menunjukkan terjadi penurunan yang tajam nilai Z-skor BB/U dan TB/U sejak usia 3-6 bulan sampai usia 24-36 bulan, kemudian mendatar sampai usia 37-48 bulan. Masih ditemukan berbagai kondisi sanitasi dan perilaku higiene yang perlu ditingkatkan dan diperbaiki. Terdapat fluktuasi pencapaian prestasi perkembangan motorik, komunikasi, kecerdasan, dan sosial sampai usia empat tahun. Setelah itu, terjadi kenaikan yang konsisten dari usia 61-72 bulan. Perkembangan anak usia 61-72 bulan menunjukkan mencapai prestasi perkembangan paling tinggi.

Hubungan antar peubah penelitian menunjukkan bahwa semakin baik/tinggi ketahanan keluarga maka keluarga mempraktekkan pengasuhan (dimensi emosi, dimensi arahan, dan lingkungan pengasuhan) yang semakin baik. Demikian halnya semakin baik praktek pengasuhan dimensi kehangatan maka semakin baik status gizi anak (indikator BB/U) dan perkembangan anak. Semakin baik lingkungan pengasuhan (HOME) menunjukkan perkembangan anak juga semakin baik.

Uji SEM (Structural Equation Modelling) dengan metode Lisrel (Linear Structural Relationship) menunjukkan terdapat hubungan erat dan positif antara ketahanan keluarga dengan pengasuhan anak (berbagai dimensi); antara pengasuhan dengan status gizi, dan antara pengasuhan dengan perkembangan anak.  Dengan menempatkan dua kelompok observed variable status gizi (kelompok BB/TB dan BB/U dan kelompok tingkat kecukupan protein, vit-A, vit-C, dan Fe), hasil analisis mengkonfirmasi  dua model (Linear Structural Relationship) pengaruh ketahanan keluarga dan pengasuhan anak terhadap status gizi dan perkembangan anak dengan nilai GFI/AGFI (Goodness of Fit Index/Adjusted Goodness of Fit Index) masing-masing adalah 0.97/0.95 untuk model-1 dan 0.90/0.86 untuk model-2. Hal tersebut menunjukkan bahwa model yang dianalisis sesuai dengan keragaan data yang dikumpulkan. Model penelitian mengindikasikan bahwa penguatan ketahanan keluarga menjadi prasyarat penting agar tumbuh kembang anak dapat berlangsung optimal.

Hasil analisis regresi logistik menunjukkan bahwa pendapatan per kapita dan pengasuhan dimensi kehangatan berpengaruh nyata terhadap status gizi anak (BB/U),  sementara itu  status gizi anak  dengan ukuran BB/TB dipengaruhi oleh konsumsi energi, ketahanan keluarga, dan perkembangan anak.  Hasil analisis menunjukkan bahwa peluang anak yang mendapat pengasuhan berdimensi kehangatan yang tinggi  untuk memperoleh status gizi (BB/U) normal adalah 1.4.  Sementara peluang risiko anak yang memperoleh pengasuhan berdimensi kehangatan yang tinggi untuk memperoleh status gizi (BB/U) rendah hanya 0.7.  Anak yang memperoleh pengasuhan arahan yang rendah memiliki risiko 1.3 kali untuk berstatus gizi (BB/U) tidak normal dibandingkan anak yang memperoleh pengasuhan arahan yang tinggi.

Anak dari keluarga miskin memiliki risiko untuk memperoleh status gizi tidak normal 1.3 kali  dibanding anak dari keluarga yang tidak miskin. Anak dari keluarga yang ketahanan keluarganya rendah memiliki risiko 1.9 kali untuk memperoleh status gizi (BB/TB) tidak normal dibanding anak dari keluarga yang ketahanan keluarganya tinggi. Anak yang kecukupan energinya melebihi kebutuhan basal metabolisme (TKE ≥70%) memiliki peluang 1.0 untuk memperoleh status gizi (BB/TB) normal. Penggunaan 70% sebagai cut-off point TKE didasarkan perolehan data di lapang. Diduga faktor risiko TKE terhadap status gizi BB/TB akan semakin besar manakala menggunakan cut-off point TKE  lebih besar dari yang digunakan dalam penelitian ini, misalnya 80%.

Penelitian ini memberikan bukti ilmiah bahwa ketahanan keluarga dan pengasuhan anak merupakan faktor risiko dan berpengaruh terhadap status gizi (sebagai indikator pertumbuhan) dan perkembangan anak. Oleh karena itu upaya perbaikan dan peningkatan ketahanan keluarga dan praktek pengasuhan anak di keluarga menjadi penting, terutama bagi kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan sumberdaya (baik sumberdaya manusia, waktu, dan materi). Keluarga wanita pemetik teh merupakan bagian dari masyarakat Indonesia yang perlu mendapat perhatian mengingat berbagai keterbatasan yang dihadapinya yang ditunjukkan oleh sebagain besar contoh memiliki ketahanan keluarga yang rendah. Sebagian besar tidak menyelesaikan wajib belajar,  tidak memiliki atau hanya memiliki sedikit aset ekonomi, serta waktu yang terbatas untuk mengasuh anak. Masih terdapat aspek praktek pengasuhan dan perilaku sanitasi dan higiene rumah yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan, demikian halnya dalam pengaturan sumberdaya keluarga agar bisa memenuhi konsumsi pangan sesuai anjuran gizi dan kesehatan. Gambaran tingkat konsumsi anak untuk semua asupan zat gizi, persentase terbesar contoh mengalami kekurangan (<70% tingkat kecukupan). Secara umum keluarga memiliki persepsi dan nilai anak yang baik dari dimensi ekonomi, sosial, dan agama, namun masih menunjukkan adanya bias gender.  Persentase terbesar anak memiliki status gizi dan perkembangan yang normal/baik. Perhatian dan upaya perbaikan status gizi perlu dilakukan sejak dini mengingat growth falltering sudah dimulai sejak usia dini yaitu usia 3-6 bulan.

Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyarankan kepada manajemen perkebunan agar meningkatkan sistem dukungan sosial yang memadai bagi keluarga wanita pemetik teh, baik meningkatkan sarana dan prasarana maupun kualitas pengasuhan anak di TPA (Tempat Penitipan Anak), juga memperkaya aktivitas kehidupan sosial keluarga wanita pemetik teh seperti arisan dan pengajian sebagai wahana sosialisasi dan edukasi keberfungsian keluarga dalam kaitannya dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Demikian juga peneliti menyarankan kepada instansi teknis terkait aspek kesehatan, pendidikan, sosial, pemberdayaan keluarga agar lebih meningkatkan efektivitas programnya, contohnya revitalisasi posyandu, dan program Bina Keluarga Balita.

English Title:

A STUDY OF PLANTATION WOMEN WORKERS : SOCIO ECONOMIC STATUS, FAMILY STRENGTH, FOOD CONSUMPTION, CHILDREN GROWTH AND DEVELOPMENT

EUIS SUNARTI

Membangun Ketahanan Keluarga dan SDM Indonesia Berkualitas