EUIS SUNARTI

Membangun Ketahanan Keluarga dan SDM Indonesia Berkualitas

Optimalisasi Transaksi MATERI DAN ENERGI KELUARGA dengan LINGKUNGANNYA - EUIS SUNARTI

Optimalisasi Transaksi MATERI DAN ENERGI KELUARGA dengan LINGKUNGANNYA

March 5th, 2012

RINGKASAN

Family optimalization and environment

Meningkatkan keterjaminan pemenuhan energi dan materi bagi penduduk (individu, keluarga, masyarakat) merupakan program utama pemerintah dalam beberapa dekade ini. Pemerintah menganggarkan dana yang cukup besar untuk berbagai program dan penelitian terkait pangan dan energi dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir ini. Pada dasarnya terdapat dua faktor utama dalam menghadapi masalah pangan dan energi yaitu faktor penawaran (keterjaminan ketersediaan melalui berbagai upaya eksplorasi, ekspansi, dll) dan melalui faktor permintaan (konsumsi, penghematan atau konservasi). Kontrol permintaan dilakukan hendaknya tanpa menurunkan produktifitas dan kualitas hidup.

Pada dasarnya, pengguna dan pengambilan keputusan transaksi materi dan energi berada di keluarga, yaitu unit sosial terkecil yang mengelola sumberdaya untuk mencapai kesejahteraan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh intervensi optimalisasi transaksi materi dan energi di tingkat keluarga. Desain penelitian adalah modifikasi control-group pretest-posttest design, dengan modifikasi pemilihan kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dilakukan dengan quasi-eksperimental sesuai dengan kerangka contoh yang ditentukan. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Situgede, Kecamatan Bogor Barat, Kabupaten Bogor yang dipilih secara sengaja (purposive) untuk menjamin terpenuhinya kegiatan penelitian dengan intensitas yang cukup tinggi, dan terdiri atas keluarga berstatus sosial ekonomi menengah ke bawah sehingga dapat menggambarkan proporsi terbesar keluarga Indonesia.  Penelitian dilakukan di dua tempat, yaitu di RW 03 sebagai kelompok yang mendapatkan perlakuan dan RW 05 sebagai kelompok kontrol. Setiap kelompok dipilih sebanyak 15 keluarga sebagai contoh sehingga total contoh sebanyak 30 keluarga. Transaksi energi dan materi dalam keluarga ditunjukkan oleh konsumsi dan aksi korservasi keluarga terkait energi dan materi. Konsumsi energi dan materi ditunjukkan oleh pengeluaran keluarga untuk energi (listrik, BBM, dan gas) dan pemakaian materi (air, plastik, dan kertas) di keluarga. Sedangkan aksi konservasi diukur dari jumlah dan persentase perilaku konservasi dari perilaku konservasi yang diharapkan dilakukan keluarga. Analisis dilakukan menggunakan uji beda, uji hubungan, dan uji pengaruh.

Disain quasi eksperiment dengan menetapkan dua kelompok percobaan dari satuan wilayah berbeda untuk menghindari bias pengaruh intervensi terhadap kelompok kontrol, memungkinkan kelompok perlakuan dan kelompok kontrol memiliki karakteristik keluarga yang berbeda. Kelompok kontrol memiliki karakteristik keluarga yang lebih tinggi dibandingkan kelompok perlakuan dalam hal rataan usia suami, usia istri, pendapatan per kapita (p<0.01), rataan lama pendidikan suami (p<0.05) dan rataan lama pendidikan istri (p<0.10). Tidak terdapat perbedaan jumlah anggota keluarga antara kedua kelompok percobaan. Gambaran hubungan antara karakteristik keluarga contoh menunjukkan semakin tinggi lama pendidikan (baik pada istri maupun suami), demikian juga semakin  tinggi usia (baik pada istri maupun suami),  semakin tinggi pula pendapaan keluarga.

Analisis uji beda terhadap data awal menunjukkan konsumsi seluruh materi dan energi yang diteliti (kecuali konsumsi air dan pamakain kertas) pada kelompok kontrol lebih tinggi dibandingkan kelompok perlakukan (pada p<0.01 kecuali konsumsi plastik p<0.05), namun tidak terdapat perbedaan dalam perilaku konservasi diantara kedua kelompok percobaan tersebut. Rataan konsumsi materi dan energi per bulannya pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol berturut turut adalah sebagai berikut:  sebesar Rp 39,733.00 (7.8 kg) dan Rp 63,487.00. (11.87 kg) untuk pengeluaran gas; Rp 82,666.00 (16.53 liter) dan Rp 330,000.00 (64.73 liter) untuk bahan bakar kendaraan;  sebesar Rp 72,066.00 dan  Rp 152,233.00 untuk pengeluaran listrik;  sebanyak 192,67 liter/hari dan 199,97 liter/hari untuk  pemakaian air; sebanyak 8.73 item dan 10.27 item untuk pemakaian barang dari plastik; dan 1.33 item dan 1.53 item untuk kepemilikan dan pemakaian kertas.

Hasil analisis menunjukkan bahwa sebelum intervensi, tidak terdapat perbedaan perilaku konservasi energi dan materi antara kelompok perlakuan dan kelompok control. Rataan pemenuhan perilaku konservasi energi dan materi pada kelompok perlakuan dan kontrol berturut-turut mencapai 31.11 persen dan 32.22 persen untuk gas dan BBM;  sebesar 68.15 persen dan 69.93 persen untuk listrik;  sebesar 34.07 persen dan 33.33 persen untuk air;  sebesar 41.33 persen dan 49,33 persen untuk plastik; sebesar 47.62 persen dan 42,86 persen untuk kertas; dan sebesar 22.86 persen dan 35,24 persen untuk pengelolaan pekarangan.

Intervensi diberikan hanya kepada kelompok perlakuan. Intervensi dilakukan melalui metode penyuluhan mengenai status ketahanan energi dan materi, pentingnya konservasi energi dan materi yang diteliti, bagaimana melakukan konservasi energi dan materi di keluarga, keuntungan jika melakukan dan kerugian jika tidak melakukan konservasi energi dan materi.  Setiap minggu, kegiatan intervensi diikuti oleh lebih dari tiga perempat peserta intervensi dan yang tertinggi pada minggu keempat dimana seluruh kelompok perlakuan mengikuti intervensi. Kegiatan intervensi diawali oleh pre-test dan diakhiri dengan post-test, dimana rataan nilai post-test selalu lebih tinggi dibandingkan nilai pre-test. Hasil uji beda menunjukkan pengetahuan kelompok perlakuan setelah memperoleh intervensi lebih tinggi dibandingkan sebelum intervensi.

Elaborasi hubungan antara karakteristik keluarga, konservasi dan pengeluaran keluarga untuk energi dan materia menunjukkan bahwa semua peubah karakteristik keluarga yaitu lama usia (suami maupun istri), lama pendidikan (suami maupun istri), dan pendapatan per kapita berhubungan nyata positif dengan pengeluaran listrik, dan dengan pemanfaatan pekarangan. Hubungan yang erat antara usia, lama pendidikan, dan pendapatan, diduga berkaitan dengan besarnya luas rumah dan fasilitas rumah yang membutuhkan listrik, serta luasnya pekarangan. Hal tersebut dikarenakan keluarga mengeluarkan biaya tambahan untuk memanfaatkan dan merawat  pekarangan.

Intervensi secara nyata menurunkan pengeluaran untuk gas pada kelompok perlakuan (penurunan rataan pengeluaran sebesar Rp 33,866.00), namun tidak memberikan perbedaan yang nyata pada pengeluaran lainnya. Sementara itu pada kelompok kontrol justru terjadi peningkatan pengeluaran untuk gas dan listrik, dimana khusus untuk listrik, pengeluaran setelah intervensi justru lebih tinggi secara nyata (p<0.09).

Analisis uji beda Mann Whitney menunjukkan bahwa setelah intervensi, kelompok perlakuan memiliki perilaku konservasi yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol dalam konservasi gas dan BBM (p<0.05),  dan konservasi air (p<0.01). Setelah intervensi, kelompok perlakuan melakukan peningkatan  pemenuhan konservasi energi dan materi yang diteliti. Besarnya rataan peningkatan tersebut adalah sebesar 48.89 persen untuk konservasi gas dan bahan bakar kendaraan, sebesar 77.78 persen untuk listrik, sebesar 68.15 persen untuk air, sebesar 48 persen untuk plastik, sebesar 55.24 persen untuk kertas, dan untuk pekarangan sebesar 40 persen.

Hasil uji beda pada dua kelompok percobaan antara sebelum dan sesudah intervensi diperkuat hasil analisis regresi linear yang  menunjukkan bahwa intervensi secara nyata mempengaruhi peningkatan dalam hal pemanfaatan pekarangan, konservasi listrik, konservasi air, konservasi gas dan BBM,  konservasi plastik, dan konservasi kertas. Namun demikian, intervensi belum memberikan pengaruh yang nyata terhadap penurunan pengeluaran keluarga untuk energi dan materi yang diteliti.

Analisis potensi penghematan terhadap kelompok perlakuan setelah intervensi menunjukkan bahwa intervensi menyebabkan keluarga dapat  menghemat pengeluaran listrik sebesar 8.90 persen, menghemat pengeluaran untuk gas sebesar 33.08 persen, pengeluaran untuk bensin  sebesar 48.96 persen, dan penggunaan air sebesar 9.13 persen. Hal tersebut menunjukkan pentingnya edukasi, sosialisasi dan internalisasi konservasi energi dan materi oleh berbagai pihak kepada keluarga sebagai unit manajemen terkecil terkait pengambilan keputusan dan perilaku konsumsi dan konservasi energi dan materi yang diteliti.

EUIS SUNARTI

Membangun Ketahanan Keluarga dan SDM Indonesia Berkualitas