EUIS SUNARTI

Membangun Ketahanan Keluarga dan SDM Indonesia Berkualitas

Keluarga Berencana dalam Konteks Peningkatan Kualitas Sumberdaya Manusia dan Ketahanan Keluarga

March 7th, 2012

Seminar Program KB dalam Konteks Pembangunan Sumberdaya Manusia (Jakarta 8 September 2008)

 

KELUARGA BERENCANA DALAM KONTEKS PENINGKATAN KUALITAS SUMBERDAYA MANUSIA DAN KETAHANAN KELUARGA

A.   Landasan, Kinerja, dan Tantangan Program KB Indonesia

1.   Landasan dan Urgensi Program KB

 Program Keluarga Berencana (KB) secara mikro berdampak terhadap kualitas individu dan secara mikro berkaitan dengan tujuan pembangunan pada umumnya. Secara mikro, KB berkaitan dengan kesehatan dan kualitas hidup ibu/perempuan, juga kualitas bayi dan anak.  Secara makro, KB dan kesehatan reproduksi berkontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung untuk meraih MDG’s (Singh et al. 2003 dalam UNFPA 2006), yaitu : 1) memberantas kemiskinan dan kelaparan, 2) mewujudkan pendidikan dasar untuk semua, 3) mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan,  4) mengurangi angka kematian anak, 5) meningkatkan kesehatan ibu, 6) menjamin kelestarian lingkungan hidup, dan 7) pembangunan kemitraan global untuk pembangunan

Penggunaan KB berkaitan dengan rendahnya kematian ibu dan kematian anak dan dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Memiliki anak lebih sedikit dan lebih sehat dapat mengurangi beban ekonomi pada keluarga miskin, dan memungkinkan mereka menginvestasikan sumberdayanya dalam pengasuhan, perawatan, dan sekolah anak, sehingga nantinya diharapkan dapat memutus mata rantai kemiskinan  (UNFPA 2005a, WHO 1994 dalam UNFPA 2006). Secara nasional, investasi KB juga membuka “a window of opportuniity” (jendela kesempatan) bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat melalui penurunan fertilitas dan perubahan struktur umur populasi dan angka ketergantungan (dependency ratio). Peningkatan rasio jumlah pekerja terhadap jumlah anak yang harus ditanggung menyebabkan peningkatan tabungan dan investasi, serta perbaikan standar kualitas kehidupan dan rendahnya kemiskinan (Bloom et al. 2003, Merrick 2002 dalam UNFPA 2006). “A window of opportunity” dapat menurunkan 14 % tingkat kemiskinan di Negara berkembang antara tahun 2000 dan 2015 (Mason and Lee 2004 dalam UNFPA 2006). Investasi dalam KB juga dapat menurunkan biaya pelayanan social seperti biaya pelayanan kesehatan, pendidikan, pangan, perumahan, dsb. Rendahnya pertumbuhan penduduk juga dapat mengurangi tekanan terhadap eksploitasi sumberdaya alam yang terbatas (Singh et al. 2003 dalam UNFPA 2006).

KERAGAAN PEMETIK TEH WANITA: SOSIAL EKONOMI, KETAHANAN KELUARGA, KONSUMSI PANGAN, PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK

March 4th, 2012

RINGKASAN

Woman plantation, child growth, social economic

Perbaikan gizi dipandang sebagai entry point upaya pengentasan kemiskinan dan upaya perolehan hidup berkualitas.  Oleh karenanya terbebasnya dari kelaparan dan masalah gizi merupakan hak dasar setiap umat manusia. Dalam dekade terakhir banyak kemajuan dalam memahami kompleksnya interaksi antara faktor biologi dan perilaku yang mempengaruhi status gizi. Interaksi positif antara pengasuh dengan anak dikaitkan dengan kecukupan lingkungan untuk anak tumbuh dan berkembang (Pelletier, 1995).  Banyak penelitian menunjukkan  bahwa pertumbuhan fisik anak dipengaruhi oleh interaksi antara beragam intervensi psiko dan intervensi gizi (Myers, 1992). Hasil penelitian selama lebih 20 tahun  telah menunjukkan bahwa pemecahan masalah gizi pada anak tergantung tiga faktor utama yaitu ketahanan pangan individu, akses terhadap layanan kesehatan, dan ketersediaan perilaku pengasuhan “care” yang memadai (Engle, Menon & Hadad, 1997), ketiga faktor tersebut beroperasi di tingkat keluarga dan masyarakat (Shrimpton, 2006);  sehingga penting untuk memberi perhatian bagaimana meningkatkan kapasitas keluarga yang memiliki posisi penting sebagai institusi utama dan pertama dalam pembangunan sumberdaya manusia.

Pada sebagian masyarakat seperti keluarga wanita pemetik teh, fungsi pengasuhan anak menjadi tantangan karena sebagian besar waktunya digunakan untuk mencari nafkah.  Dalam situasi tersebut dituntut dinamika keberfungsian keluarga yang melibatkan pemanfaatan sumberdaya yang dimiliki/dikuasai/diakses keluarga, untuk memenuhi kebutuhan keluarga, seiring beragam masalah yang dihadapi keluarga. Kemampuan keluarga untuk mengelola sumberdaya untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga seiring dengan masalah yang dihadapi keluarga atau disebut dengan ketahanan keluarga (Sunarti, 2001). Berkaitan dengan hal tersebut, maka dipandang penting untuk mengkaji ketahanan keluarga pemetik teh wanita dalam kaitannya dengan pemenuhan fungsi pemenuhan kebutuhan konsumsi pangan dan pengasuhan agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal.

EUIS SUNARTI

Membangun Ketahanan Keluarga dan SDM Indonesia Berkualitas