EUIS SUNARTI

Membangun Ketahanan Keluarga dan SDM Indonesia Berkualitas

Diskus Pakar Bidang Kewanitaan DPP PKS Dalam Menyambut Hari Keluarga

March 20th, 2012

Negara seharusnya bertanggung jawab dalam memberikan kondisi yang menguntungkan untuk ketahanan keluarga. Yaitu dengan memberikan jaminan lingkungan dan sarana sarana yang menguatkan.

PK-Sejahtera Online: Keluarga adalah unit dasar dari masyarakat yang akan memberikan pengaruh pada kehidupan sosial masyarakat dan kesehatan masyarakat. Namun, fakta menunjukkan bahwa saat ini lebih banyak masyarakat yang mempengaruhi keluarga daripada keluarga yang mempengaruhi masyarakat. Demikian salah satu poin yang disampaikan oleh Dr. Euis Sunarti, M.Si, staf pengajar Fakultas Ekologi Manusia IPB, Kamis, 28 Juni 2007 pada diskusi pakar dalam rangka Hari Keluaga, yang diselenggarakan oleh Bidang Kewanitaan DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS)

Dalam diskusi yang dihadiri oleh staf bidang kewanitaan DPP PKS itu, Dr. Euis menjelaskan bahwa bangunan keluarga adalah bangunan yang mudah rapuh kalau tidak didukung oleh support system yang mumpuni. Oleh karena itu, negara seharusnya bertanggung jawab dalam memberikan kondisi yang menguntungkan untuk ketahanan keluarga. Yaitu dengan memberikan jaminan lingkungan dan sarana sarana yang menguatkan. Misalnya dengan memberikan sarana transportasi yang ramah keluarga, lingkungan perumahan yang menguntungkan untuk harmonisasi keluarga, maupun fasilitas bermain yang sesuai dengan perkembangan anak. Sayangnya, pemerintah Indonesia saat ini belum banyak memberikan kondisi yang kondusif untuk ketahanan keluarga. Contoh kasus, tidak sedikit keluarga keluarga Indonesia yang karena kebutuhan ekonomi, terpaksa harus hidup berpisah dengan keluarga. “Bagaimana ketahanan keluarga dapat dibangun kalau anggota keluarga hidup terpisah” kata ibu dari putra empat ini miris. Akibatnya, tidak sedikit keluarga keluarga yang tadinya berkomitmen untuk menjaga ketahanan keluarga menjadi luntur akibat desakan kebutuhan lain yang lebih kuat.

Selain itu, dosen yang juga rajin membuat buku ini, mengatakan bahwa pemberdayaan keluarga merupakan hal yang penting dalam membangun ketahanan keluarga. Pemerintah Indonesia saat ini memang lebih banyak melakukan pemberdayaan keluarga dari sisi ekonomi. Namun sayangnya, kata Dr. Euis, dalam hal tersebut, pendampingannya sangat kurang. Akibatnya program pemberdayaan ekonomi keluarga tidak memberikan hasil yang optimal.

Poin lain dalam ketahanan keluarga adalah memberdayakan keluarga dalam hal pengambilan keputusan. Setiap anggota keluarga seharusnya terakses dengan informasi dan pengetahuan sehingga dapat mengambil keputusan dengan sebaik baiknya. Misalnya, apapun aktivitas dan profesi yang dipilih oleh seorang istri, apakah ingin berkarir tapi tetap menjadi keseimbangan peran dalam keluarga atau ingin sebagai ibu rumah tangga yang berkualitas, haruslah benar benar didasarkan pada informasi dan pengetahuan yang memadai. Terkait dengan hal tersebut, Dr. Euis menambahkan, bahwa keputusan untuk bekerja di lingkungan publik pada masyarakat Indonesia saat ini terbagi dua. Pada masyarakat bawah, istri yang bekerja bukanlah sebuah keputusan optional, mereka mau tidak mau harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Sedangkan bagi masyarakat menengah atas, umumnya keputusan itu merupakan pilihan.

Sebelum sessi diskusi yang menarik ditutup, pertanyaan dan pernyataan pun diluncurkan oleh beberapa orang staf. Semua itu kemudian direspon oleh Dr. Euis dengan jawaban yang jelas dan mencerahkan.

Akhirnya, ketahanan keluarga Indonesia saat ini memang masih menjadi persoalan yang tidak kecil. Namun, Dr. Euis memberikan harapan bahwa di setiap persoalan, pasti ada pihak pihak yang menjadi counter part atau yang concern terhadap masalah ini. Mereka melawan arus dan berupaya untuk memberikan perbaikan pada kondisi yang ada. Oleh karena itu, Dr. Euis menyarankan, agar kita dapat memperkuat pihak pihak counter part tersebut.. Sehingga, persoalan ketahanan keluarga yang begitu banyak tidak berlarut larut dan ada jalan untuk memberikan perbaikan yang ke arah yang positif bagi ketahanan keluarga. Semoga! Wallohu?alam bishowan

pk-sejahtera.org | Jumat, 29 Juni 2007

ANALISIS FAKTOR RISIKO STATUS GIZI ANAK [WNPG]

March 20th, 2012

ABSTRACT

Sumberdaya Manusia berkualitas harus disiapkan sejak dini, yang berarti setiap anak perlu mendapatkan pola asuh yang baik agar terhindar dari kurang asupan gizi dan terkena infeksi. Namun di negara sedang berkembang, masih banyak anak-anak yang belum mendapat pengasuhan yang memadai sehingga kurang mendukung bagi pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Fungsi pengasuhan anak berkaitan dengan keberfungsian keluarga lainnya, terutama fungsi ekonomi keluarga. Pada sebagian masyarakat seperti keluarga pemetik the wanita, fungsi pengasuhan anak menjadi tantangan karena sebagian besar waktunya digunakan untuk mencari nafkah. Dinamika keberfungsian keluarga melibatkan pemanfaatan sumberdaya yang dimiliki/dikuasai/diakses keluarga, untuk memenuhi kebutuhan keluarga, seiring beragam masalah yang dihadapi keluarga. Konsep tersebut dikenal dengan ketahanan keluarga (Sunarti, 2001). Berkaitan dengan hal tersebut, menjadi penting untuk mengelaborasi dan menganalisis ketahanan keluarga pemetik teh wanita dalam kaitannya dengan pemenuhan fungsi pengasuhan agar anak tumbuh dan berkembang dengan optimal. Tulisan ini menyajikan sebagian dari hasil penelitian “A Study of Plantation Women Workers; Socio Economic Status, Family Strength, Food Consumption, and Children Growth and Development” yang akan memfokuskan kepada analisis ketahanan keluarga dan pengasuhan anak sebagai factor resiko status gizi anak.

Desain penelitian adalah cross sectional study. Penelitian dilakukan di Kabupaten Bandung yaitu di perkebunan teh PTPN VIII wilayah Pangalengan (Perkebunan Malabar, Purbasari, Talun-santosa, Sedep) dan PTPN Rancabali, Ciwidey. Pengambilan data dilakukan pada bulan Desember 2007 –Januari 2008. Contoh adalah 500 pemetik the wanita dan anaknya yang berusia dibawah enam tahun (usia dini) yang dipilih secara acak sederhana. Data yang digunakan untuk keperluan analisis ini adalah data ketahanan keluarga, pengasuhan anak, status gizi (Umur, BB, TB). Pertumbuhan anak diukur secara antropometri (BB/U, TB/U, BB/TB) dan masing-masing dikategorikan menjadi dua yaitu status gizi normal (-2≤ Z skor ≤ 2) dan tidak normal (-2 > Z skor < 2). Analisis data menggunakan regresi logistik dan OR (Odd Ratio).

Contoh anak terdiri dari 52.6% (263 orang) laki-laki dan 47.4% (237 orang) perempuan. Umur rataan 36.43 bulan dengan sebaran 10.8% berusia 0-12 bulan, 16.8% berusia 13-24 bulan, 21.8% berusia 25-36 bulan, 22.2% berusia 37-48 bulan, 19.6% berusia 49-60 bulan, dan 8.8% berusia 61-72 bulan. Status gizi contoh berdasarkan BB/U terdiri atas 21.8% terkategori tidak normal, dan 78.2% terkategori normal. Berdasarkan ukuran BB/TB menunjukkan 14.8% terkategori tidak normal dan 85.2% terkategori normal. Sedangkan berdasarkan ukuran TB/U menunjukkan prosentase yang setara yaitu 56.0% terkategori tidak normal, dan 44.0% terkategori normal.

Pendapatan keluarga contoh per bulan berkisar antara Rp 155,833.33 – Rp 2,799,166.67 dengan nilai rataan Rp 838, 584. Sedangkan pendapatan perkapita per bulan berkisar antara 23,690.5 – Rp 466, 527.8 dengan nilai rataan Rp 193, 580. Rata-rata Pengeluaran pangan dan non pangan keluarga perbulan adalah Rp 578,767 dan Rp 224,598. Sedangkan rata-rata pengeluaran per kapita per bulan untuk pangan dan non pangan adalah Rp 134,022. dan Rp 51,737. Dengan menggunakan garis kemiskinan Jawa Barat 2007 untuk wilayah pedesaan (Rp 144.204/kapita/bulan) maka masih terdapat 25.8% (proksi pengeluaran) atau 31.6 % (proksi pendapatan) contoh yang tergolong miskin. Jika menggunakan criteria kemiskinan Bank Dunia 1 dolar per hari atau sekitar Rp 285.000/kap/bulan maka 83.8 % contoh tergolong miskin, dan bila menggunakan criteria kemiskinan 2 dolar per kapita per hari maka seluruh contoh tergolong miskin.

Diantara ketiga ketahanan keluarga (fisik, social, dan psikologis), ketahanan social memiliki nilai rata-rata yang paling tinggi sementara ketahanan fisik memiliki rata-rata prosentase pencapaian yang paling rendah, sedangkan kisaran pencapaian ketahanan keluarga yang paling lebar adalah pada ketahanan psikologis yaitu antara 24 sampai 100%. Data menunjukkan bahwa tidak ada contoh yang mencapai prosentase tertinggi (100%) pada ketahanan fisik. Mengelaborasi keragaan ketahanan keluarga contoh dengan mengelompokkan pencapaian ketahanan keluarga contoh ke dalam dua kategori (tinggi dan rendah) menunjukkan bahwa dengan menggunakan cut of point 80 % maka 86 % contoh masih tergolong memiliki ketahanan keluarga rendah. Diantara ketiga ketahanan keluarga, persentase terbesar contoh memiliki ketahanan fisik yang rendah (85%), namun hal tersebut diimbangi dengan ketahanan sosial tinggi (79%).

Praktek pengasuhan anak yang dilakukan ibu beragam. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian adalah masih tingginya ibu yang mengaku kurang memberi pujian (51.8%), suka mengomeli anak (89.8%), menakuti atau mengancam anak ketika berbuat tidak tepat (74.4%), mengeluhkan anak kepada orang lain padahal anak mengetahuinya (49.2%), juga masih cukup besar ibu (24.2%) yang tidak berbicara kepada anak dengan cara yang hangat dan penuh cinta. Pencapaian praktek pengasuhan kehangatan contoh berkisar antara 40 sampai 100%. Dengan pengkategorian praktek pengasuhan kedalam dua kategori yaitu tinggi (≥80%) dan rendah (< 80%) maka sebagian besar contoh (81%) terkategori sudah mempraktekkan pola pengasuhan dimensi kehangatan yang tinggi.

Hasil analisis regresi logistic menunjukkan bahwa pendapatan perkapita dan pengasuhan dimensi kehangatan mempengaruhi status gizi anak (BB/U) secara nyata, sementara itu status gizi anak dengan ukuran BB/TB dipengaruhi oleh konsumsi energy, ketahanan keluarga, dan perkembangan anak. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor risiko anak yang mendapat pengasuhan berdimensi kehangatan yang tinggi untuk mencapai status gizi (BB/U) normal adalah 1.393. Sementara peluang risiko anak yang memperoleh pengasuhan berdimensi kehangatan yang tinggi untuk memperoleh status gizi (BB/U) rendah adalah 0.7179. Anak yang memperoleh pengasuhan arahan yang rendah memiliki risiko 1.3 kali untuk berstatus gizi (BB/U) tidak normal dibandingkan anak yang memperoleh pengasuhan arahan yang tinggi.

Anak yang keluarganya memiliki ketahanan keluarga tinggi memiliki faktor risiko untuk memperoleh status gizi normal sebesar 2.0406 sementara peluang risiko anak yang keluarganya memiliki ketahanan keluarga tinggi untuk memperoleh status gizi tidak normal hanya sebesar 0.49. Anak dari keluarga yang ketahanan keluarganya rendah memiliki risiko 1.87 kali untuk memperoleh status gizi (BB/TB) tidak normal dibanding anak dari keluarga yang ketahanan keluarganya tinggi

Anak yang kecukupan energinya melebihi kebutuhan basal metabolism (TKE ≥ 70%) memiliki peluang risiko 1.0094 untuk memperoleh status gizi (BB/TB) normal, sementara risiko anak yang kecukupan gizinya diatas kebutuhan basal metabolism untuk memperoleh status gizi tidak normal adalah 0.9907. Penggunaan 70 % sebagai cut-of point TKE didasarkan perolehan data di lapang. Diduga factor resiko TKE terhadap status gizi BB/TB akan semakin besar manakala menggunakan cut-of point TKE lebih besar dari yang digunakan dalam penelitian ini, misalnya 80 %.

Anak dari keluarga tidak miskin memiliki peluang risiko untuk memperoleh status gizi (BB/U) normal adalah 1.3412 kali, sementara risiko anak yang keluarganya tidak miskin untuk memperoleh status gizi (BB/U) tidak normal adalah 0.7456. Anak dari keluarga miskin memiliki risiko untuk memperoleh status gizi tidak normal 1.2548 kali dibanding peluang anak dari keluarga yang tidak miskin.

PENINGKATAN KETAHANAN KELUARGA DAN KUALITAS PENGASUHAN UNTUK PENINGKATAN STATUS GIZI ANAK USIA DINI [WNPG]

March 20th, 2012

ABSTRACT

Perbaikan gizi dipandang sebagai entry point upaya pengentasan kemiskinan dan upaya perolehan hidup berkualitas. Oleh karenanya terbebasnya dari kelaparan dan masalah gizi merupakan hak dasar setiap ummat manusia. Dalam dekade terakhir banyak kemajuan dalam memahami kompleksnya interaksi factor biologi dan perilaku yang mempengaruhi status gizi. Interaksi positif pengasuh dengan anak dikaitkan dengan kecukupan lingkungan untuk anak tumbuh dan berkembang (Anderson, Pelletier, & Alderman, 1995). Banyak penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan fisik dipengaruhi oleh interaksi antara beragam intervensi psikososial dan intervensi gizi (Myers, 1992). Selama lebih 20 tahun secara establish telah diterima bahwa pemberantasan masalah gizi pada anak tergantung tiga factor utama yaitu ketahanan pangan individu, akses terhadap layanan kesehatan, dan ketersediaan perilaku pengasuhan “care” yang memadai. (Engle, Menon & Hadad, 1997), dimana ketiga factor tersebut beroperasi di tingkat keluarga dan masyarakat (Shrimpton, 2006); sehingga penting untuk memberi perhatian bagaimana meningkatkan kapasitas keluarga sebagai institusi utama dan pertama dalam pembangunan sumberdaya manusia. Kemampuan keluarga untuk mengelola sumberdaya untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga seiring dengan masalah yang dihadapi keluarga disebut dengan ketahanan keluarga (Sunarti, 2001).

Tulisan ini menyajikan sebagian dari hasil penelitian “A Study of Plantation Women Workers; Socio Economic Status, Family Strength, Food Consumption, and Children Growth and Development” yang lebih memfokuskan untuk menganalisis pengaruh ketahanan keluarga dan pengasuhan anak terhadap status gizi dan perkembangan anak. Penelitian dilakukan di Kabupaten Bandung yaitu di perkebunan teh PTPN VIII wilayah Pangalengan (Malabar, Purbasari, Talun-santosa, Sedep) dan PTPN Rancabali, Ciwidey. Desain penelitian adalah cross sectional. Pengambilan data dilakukan pada bulan Desember 2007 –Januari 2008. Sebagai contoh dipilih secara acak 500 orang pemetik the wanita yang memiliki anak dibawah usia enam tahun (anak usia dini). Data yang digunakan untuk keperluan analisis ini adalah data ketahanan keluarga, pengasuhan anak dengan dimensi arahan (direction dimension), dimensi emosi (emotional dimension), dimensi kehangatan (warmth dimension), dan lingkungan pengasuhan (HOME, Home Observation for Measurement of Environment), data terkait status gizi (data umur, BB,TB), dan prestasi perkembangan anak (psikomotor, komunikasi, kecerdasan, dan social). Pertumbuhan anak diukur baik secara antropometri (BB/U, TB/U, BB/TB) maupun dari tingkat kecukupan konsumsinya (energy, protein, Vitamin A, Vitamin C, dan zat besi). Sedangkan pengukuran perkembangan anak menggunakan indicator perkembangan dari program Bina Keluarga Balita (BKB). Peubah penelitian umumnya memiliki reliabilitas yang baik yaitu dengan nilai alpha-Cronbach sama atau lebih besar dari 0.7. Untuk menjawab tujuan, data dianalisis dengan factor analysis (eksploratory dan confirmatory) dan uji pengaruh dengan menggunakan model persamaan structural (SEM, Structural Equation Modelling) Lisrell (Linear Structural relationship).

Hasil penelitian menunjukkan 97.4 % ibu dan ayah memiliki lama sekolah dibawah 9 tahun. Pendapatan perkapita per bulan berkisar antara 23,690.5 – Rp 466, 527.8 dengan nilai rataan Rp 193, 580. Masih terdapat 25.8% (proksi pengeluaran) atau 31.6 % (proksi pendapatan) keluarga yang tergolong miskin (mengacu garis kemiskinan Jawa Barat 2007 untuk wilayah pedesaan Rp 144.204/kapita/bulan); bahkan 83.8 % contoh tergolong miskin (kriteria Bank Dunia 1 dollar /kap/hari);, dan semuanya tergolong miskin (kriteria 2 dolar/kap/hari).

Hasil analisis ketahanan keluarga menunjukkan bahwa : 1) kisaran prosentase pencapaian ketahanan keluarga yang paling lebar adalah pada ketahanan psikologis (24 – 100); 2) diantara ketiga ketahanan keluarga (fisik, social, psikologis), ketahanan social memiliki nilai rata-rata yang paling tinggi sementara ketahanan fisik memiliki rata-rata prosentase pencapaian yang paling rendah; 3) tidak ada contoh yang mencapai prosentase tertinggi (100%) pada ketahanan fisik; 4) sebagian besar contoh (86%) masih tergolong memiliki ketahanan keluarga rendah (cut of point 80 %); 5) diantara ketiga ketahanan keluarga, persentase terbesar contoh memiliki ketahanan fisik yang rendah (85%); 6) rendahnya ketahanan fisik contoh umumnya diimbangi dengan ketahanan sosial tinggi (79%)

Praktek pengasuhan anak yang dilakukan ibu beragam. Praktek pengasuhan penerimaan dan kehangatan bersifat kontinuum, dimana selain telah melakukan item pengasuhan berdimensi penerimaan dan kehangatan (warmth dimension) masih banyak ibu yang melakukan praktek pengasuhan yang bersifat neglect/indefference, hostility/aggression, juga undifferentiated rejection. Masing-masing hampir dari setengahnya ibu (51%) masih mempraktekkan gaya pengasuhan arahan (51%) dan gaya pengasuhan emosi (53%) yang kurang memadai. Lingkungan pengasuhan contoh sangat bervariasi, namun lingkungan pengasuhan pada kelompok anak 0-3 tahun lebih rendah dibandingkan untuk anak 3-6 tahun. Seluruh item lingkungan pengasuhan anak usia 0-3 tahun terkategori rendah, terutama dalam penyediaan mainan anak. Lingkungan pengasuhan anak usia 3-6 tahun mengalami perbaikan seiring meningkatnya peran TPA (tempat penitipan anak) di perkebunan dalam menstimulasi bahasa dan akademik anak.

Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar atau prosentase terbesar contoh tergolong memiliki status gizi normal pada ukuran BB/TB (85.2%) dan BB/U (78.2%), kecuali pada TB/U (40%) dimana prosentase terbesar (53%) tergolong pendek/stunting. Terdapat 21.8% contoh yang tergolong gizi kurang dan buruk berdasarkan BB/U dan 9.2 % berdasarkan BB/TB, namun terdapat 5.6% contoh dengan status gizi lebih untuk BB/TB dan 3% untuk TB/U.

Perkembangan anak dibagi kedalam empat dimensi yaitu motorik, komunikasi, kecerdasan, dan sosial. Gambaran perkembangan anak pada keempat dimensi tersebut dan menurut enam kelompok umur contoh (usia 0-6 tahun) tidak menunjukkan pola yang khas. Pada perkembangan sosial dan perkembangan kecerdasan, hampir setara antara contoh yang terkategori baik dan kurang. Semnatra pada perkembangan komunikasi persentase terbesar (65.4%) contoh terkategori baik dan hal sebaliknya pada perkembangan motorik dimana 60% contoh terkategori perkembangannya kurang.

Eksploratory factor analysis yang dilakukan terhadap semua sub-variabel menguatkan pengelompokkan masing-masing sub-variabel bergabung kepada variabel induknya. Hal tersebut dikonfirmasi oleh confirmatory factor analysis dengan nilai GFI (Goodness of Fit Index) yang baik. Tingkat kecukupan protein dapat mewakili tingkat kecukupan energi karena nilai korelasi yang sangat tinggi. Terdapat hubungan erat dan positif antara ketahanan keluarga dengan pengasuhan anak (berbagai dimensi); antara pengasuhan dengan status gizi, dan antara pengasuhan dengan perkembangan anak. Dengan menempatkan dua kelompok observed variable status gizi (kelompok BB/TB dan BB/U dan kelompok tingkat kecukupan protein, Vit-A, Vit-C, dan FE), hasil analisis mengkonfirmasi dua model (linear structural relationship) pengaruh ketahanan keluarga dan pengasuhan anak terhadap status gizi dan perkembangan anak dengan nilai GFI/AGFI masing-masing adalah 0.97/0.95 untuk model-1 dan 0.90/0.86 untuk model-2. Hal tersebut menunjukkan bahwa model yang dianalisis sesuai dengan keragaan data yang dikumpulkan.

MK. PERKEMBANGAN KELUARGA (20 Maret 2012)

March 20th, 2012

FAMILY DEVELOPMENT

Latihan soal :

  1. Families can be seen from many point of view, each one providing a different aspect of the reality to be found in family contexts. How many disciplines involved in family studies and  write at least  eight (8)  its illustrative studies.
  2. Family development borrows its lenses from a number of disciplines. Write some of concepts and  its discipline.
  3. Describe your opinion that “family development provides a predictive glass through which it is possible to forecast what a given family will going through at any period  in its life-span”

___________________________________________________

 Summary of Family Development :

  1. Keeps The Family In Focus Throughout Its History
  2. Sees Family Member In Interaction With All Other Member
  3. Watches How Individuals Affect The Family Unit and The Way Family Influences Individual Development
  4. Catches What A Given Family Is Going Through At A Particular Time In Its Life And At Given Point In History
  5. Highlights Critical Periods Of Personal And Family Growth And Development
  6. View Both The Universals And The Differences Among Families
  7. Beams In On The Ways In Which The Culture Influences Family Life, And How Families Make Themselves Felt
  8. Provides A Predictive Glass Through Which It Is Possible To Forecast What A Given Family Will Going Through At Any Period In Its Life-span
  9. Family Development Sees Family Members In Paired Positions Such As Husband-wife, Mother-daughter, Father-son, Brother-sister, Grandmother-grandchild, And So Forth
  10. Family Development Sees The Orderly Sequential Changes To Be Expected In Growth, Development, And Dissolution Or Decline Within Families Throughout The Entire Family Life Cycle

EUIS SUNARTI

Membangun Ketahanan Keluarga dan SDM Indonesia Berkualitas

Performance Optimization WordPress Plugins by W3 EDGE