EUIS SUNARTI

Membangun Ketahanan Keluarga dan SDM Indonesia Berkualitas

EUIS SUNARTI, PELOPOR PENGGIAT KELUARGA INDONESIA

January 6th, 2016

euis-sunarti-pelopor-penggiat-keluarga-indonesia-2xs2mdURJt

NAMANYA memang tidak dikenal luas, namun pemikiran, tindakan, serta kepeduliannya terhadap kesejahteraan keluarga Indonsia sangat besar.

Adalah Prof. DR. Ir. Uis Sunarti, M.Si yang memilih mendedikasikan hidup untuk membangun ketahanan keluarga Indonseia.

Berawal dari keprihatinannya melihat kemunculan kasus-kasus kejahatan di negeri ini yang semua berasal dari ketidaksempurnaan keluarga, dalam menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Sejak itu ia sadar bahwa peran dan fungsi keluarga Indonesia perlu pembenahan.

“Awalnya saya melihat masyarakat menganggap keluarga sebagai suatu hal yang normatif dan masih kurang diperhatikan. Padahal, keluarga adalah sistem utama yang membentuk karakter manusia. Pada tahun 2014 adalah puncak yang membuat saya sadar dan terpukul mengapa keluarga dipersalahkan terhadap munculnya kasus-kasus. Seperti perceraian, pemerkosaan, kejahatan teknologi, korupsi, pencemaran lingkungan, pornografi, hingga pembunuhan,” ujar Euis mengawali perbincangan.

Semua kasus itu kemudian dihubungkan dengan keluarga, perempuan, dan anak sehingga orang menyalahkan keluarga. Dari situ wanita yang berprofesi sebagai Dosen ini berpikir, mengapa keluarga yang seharusnya menjadi pelindung, pendidik, dan pengaman garda terdepan pembentukan karakter manusia tetapi justru disalahkan.

Akhirnya wanita kelahiran Bandung, 18 Januari 1965 ini berinisiatif untuk melakukan gerakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjalankan peran dan fungsi keluarga secara utuh. Sebuah perhimpuanan bernama Penggiat Keluarga (GIGA) ia dirikan bersama para ahli, praktisi, peminat, pemerhati-penggiat pembangunan keluarga pada tahun 2014.

Penggiat Keluarga merupakan kependekan dari “Jejaring Penggiat Pembangunan Keluarga”, yaitu wadah berhimpunnya atau berjejaringnya para pihak yang peduli dan ingin berpartisipasi dalam pembangunan keluarga. Jejaring penggiat keluarga menghimpun para ahli, praktisi, pemerhati, maupun peminat pembangunan keluarga, baik secara perorangan maupun secara kelembagaan.

“Resminya di akte notaris tahun 2014, tapi sebetulnya sudah lama dijalankan. Sebab, kami tidak ingin repot dengan masalah organisasi yang legalitas. Awalnya saya membentuk organisasi bernama SAMARA (Sakinah, Mawadah, Warahmah-Red) yang merupakan pusat kajian keluarga dan anak. Kemudian dari situ kami ingin memperluas, dan kami coba untuk mengembangkannya,” jelas euis panjang lebar.

Lewat kehadiran GIGA wanita berusia 50 tahun ini berharap tercipta lingkungan keuarga yang penuh cinta kasih, pekerjaan yang mendorong kesejahteraan keluarga, serta aktivitas ekonomi yang sejalan dengan kebutuhan keluarga.

“Dulu dalam keluarga yang bekerja hanya Ayah. Tapi, kehidupan keluarga bisa sejahtera, anak-anak dapat menamatkan sekolah hingga SLTA, moral pun terbentuk dengan baik. Namun, sekarang kebanyakan orangtua yang bekerja suami-istri hanya mengejar kesejahteraan secara ekonomi saja, pendidikan yang lain terabaikan,” tutupnya. (vin)

Sumber: http://lifestyle.okezone.com/read/2015/08/07/196/1192210/euis-sunarti-pelopor-penggiat-keluarga-indonesia

PERJUANGAN EUIS SUNARTI BANGUN MORAL BANGSA LEWAT KELUARGA

January 6th, 2016

Penggiat keluarga 1

KELUARGA dibangun dengan pernikahan yang sakral dan pasti punya tujuan untuk membangun keluarga bahagia, cerdas, dan bermanfaat bagi kelangsungan bangsa.

Namun sayang, pemahaman seseorang sebelum membina keluarga masih jauh dari kata cukup.

Itulah yang diungkap pelopor penggiat keluarga, Prof. DR. Ir. Euis Sunarti, M.Si dalam wawancara khusus dengan Okezone beberapa waktu lalu.

Guru Besar Departemen Ilmu Keluarga Institut Pertanian Bogor (IPB) ini berjuang membenahi masalah-masalah yang ada di negeri ini dari akar permasalahannya.

Tidak dapat dipungkiri, perceraian, kekerasan terhadap anak, carut-marut pendidikan, kejahatan seksual, pencemaran lingkungan, dan masih banyak lagi masalah lainnya terjadi karena kesalahan keluarga dalam menjalankan fungsi. Kurangnya kasih sayang keluarga menyebabkan anak-anak tumbuh tanpa pengawasan, bahkan pembiaran dari orangtua.

“Keluarga adalah lingkungan sosial paling penting sebagai pengamanan dari kerusakan moral dan semua hal-hal buruk. Untuk itu dengan adanya deklarasi hari keluarga saya berpikir untuk mengajak keluarga Indonesia memperhatikan keluarganya,” terang Euis yang khas dengan logat Sunda.

Perjuangan wanita empat orang anak ini menciptakan keluarga Indonesia bermoral, sejahtera, dan bahagia dimulai dengan membentuk organisasi bernama SAMARA (Sakinah, Mawadah, Warahmah) sebagai pusat kajian keluarga dan anak. Kemudian untuk mengembangkan dan memajukan supaya lebih resmi dan mendapat perhatian dari pemerintah ia mendirikan sebuah perhimpuanan bernama Penggiat Keluarga (GIGA) pada 2014.

“Saya ingin lewat GIGA tercipta keluarga sebagai tempat sekolah awal setiap anak. Terciptanya lingkungan berpendidikan dan membangun karakter serta moral anak. Artinya ada pembagian peran suami dan istri. Faktanya banyak orang menikah tidak punya persiapan. Hal ini tidak boleh terjadi lagi ke depannya. Itu hanya bisa didapat dari keluarga sebelumnya.”

Tidak sampai di situ, masih banyak perjuangan yang ingin dilakukan wanita 50 tahun yang meraih gelar doctor di jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Intitut Pertanian Bogor (IPB) pada 2001 ini. Di antaranya, bagaimana mendorong kebijakan yang ramah keluarga, pekerjaan yang mensejahterakan keluarga, dan perluasaan informasi tentang pentingnya fungsi keluarga.

(vin)

Sumber: http://lifestyle.okezone.com/read/2015/08/07/196/1192461/perjuangan-euis-sunarti-bangun-moral-bangsa-lewat-keluarga

Kebijakan keluarga di Indonesia dinilai masih setengah hati

December 2nd, 2014

Kebijakan keluarga di Indonesia dinilai masih setengah hati

Bogor (ANTARA News) – Guru Besar Departemen Ilmu Keluarga Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dr Ir Euis Sunarti, M.Si mengatakan salah satu alasan masih besarnya masalah ketahanan dan kesejahteraan keluarga di Indonesia adalah karena kebijakan keluarga yang setengah hati.

“Indonesia merupakan negara dengan kebijakan eksplisit keluarga yakni Undang-Undang nomor 52 tahun 2009, namun demikian program keluarga yang dijalankan sebatas pendukung atau pelengkap program lainnya,” kata Prof Euis kepada wartawan dalam kegiatan bincang memperingati Hari Keluarga, di Kampus IPB, Baranangsing, Kota Bogor, Jabar, Jumat.

Prof Euis menuturkan, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sebagai salah satu institusi yang melaksanakan program ketahanan keluarga, menempatkan program ketahanan keluarga sebatas pendukung program KB.

Oleh karena itu, lanjut Euis, dapat dipahami jika “keberhasilan” berbagai program pemberdayaan keluarga yang dilaksanakan dalam kurun waktu lama, dapat hilang terkikis oleh kebijakan lainnya.

“Sayangnya kebijakan dan program keluarga sampai saat ini masih sebatas itu,” ujarnya.

Ia menuturkan ketahanan keluarga Indonesia membutuhkan kebijakan menuju tindakan. 

Tahun ini, Indonesia sudah 20 kali memperingati Hari Keluarga dan hampir empat dekade melaksanakan kebijakan serta program keluarga secara eksplisit.

Namun, lanjutnya, sebagian besar keluarga Indonesia belum sejahtera yakni sebanyak 43,87 persen atau sebanyak 27,8 juta keluarga pra sejahtera dan KS-1 (keluarga sejahtera).

Padahal dalam Undang-Undang nomor 52 tahun 2009 mengamanatkan pemerintah untuk membangun ketahanan, kesejahteraan dan kualitas keluarga.

“Keluarga itu merupakan institusi sosial terkecil, institusi utama dan pertama dalam pembangunan karakter sumber daya manusia Indonesia,” katanya.

Menurut dia, keluarga harus memiliki ketangguhan karena memiliki beragam peran, fungsi dan tugas yang diembannya. Sepanjang siklus kehidupan keluarga bertugas dalam pemenuhan kebutuhan dasar (fisik dan non fisik), dan beragam kebutuhan lainnya. 

“Kehidupan dan kualitas keluarga merupakan miniatur kehidupan dan keualitas masyarakar dan negara, menjadi cerminan budaya dan peradaban manusia,” ujarnya.

Euis mengemukakan, ketangguhan keluarga Indonesia tercermin dari indikator pembangunan. Berdasarkan data dari BPS periode 2009-2010, saat ini masih banyak keluarga yang belum memiliki rumah (13,6 juta atau 22 persen), sulit akses air bersih (sekitar 50 persen), tidak memiliki akses sanitasi higiene (45 persen), dan miskin (sekitar 31 juta atau 13 persen).

Selain itu, masih banyak keluarga yang sulit memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan berkualitas, yang tinggal di wilayah rawan pangan, wilayah rawan bencana, dan daerah tinggi.

“Dengan potret seperti ini, maka dapat kita pahami pernyataan Presiden SBY pada KTT G-20 Juni 2012 lalu, bahwa separoh negara di dunia tidak akan mencapai target MDG`s,” katanya.

Ia mengatakan, dengan potret keluarga demikian, maka perlu perhatian serius bagaimana keluarga Indonesia menghadapi era global dan perdagangan bebas.

“Besarnya tantangan pembangunan ketangguhan keluarga Indonesia maka penting bagi seluruh pemangku kepentingan pembangunan keluarga untuk bekerja sama dan berkoordinasi mengembangkan program terobosan yang memberikan daya ungkit percepatan peningkatan kesejahteraan keluarga,” katanya.

Kota Bogor Deklarasikan 20 Menit Bersama Keluarga

November 25th, 2014

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR — Sekitar 2.000 warga Kota Bogor berkumpul di Kebun Raya Bogor memdeklarasikan “20 menit orang tua menemani anak” pada acara Deklarasi Keluarga Indonesia (DKI) yang diselenggarakan oleh BKKBN bersama IPB dan Pemkot Kota Bogor.

Pembacaan deklarasi dipimpin oleh Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Fasli Jalal didampingi istri Gubernur Jawa Barat, Netty Prasetiyani, Wali Kota Bogor, Bima Arya, Dekan Fakultas Ekologi Manusia, Dr Arif Satria serta penggagas DKI 2014 Prof Euis Sunarti.

“Deklarasi Keluarga Indonesia ini adalah salah satu cara dalam praktek menciptakan keluarga yang berkualitas,” ujar Kepala BKKBN, Fasli Jalal.

Menurut Fasli, dari data yang ia terima, kondisi saat ini banyak keluarga di Indonesia yang kurang memiliki waktu komunikasi bersama anaknya. Orang tua sibuk bekerja demi meningkatkan penghasilannya.

“Sekitar 600.000 orang setiap harinya naik “commuter line” ke Jakarta untuk bekerja. Jika satu orang saja bekerja berarti ada 300 keluarga yang terpisah dalam waktu yang lama. Setiap hari berangkat subuh, pulang setelah malam, tidak ada waktu untuk keluarga,” ujar Fasli,

Menurut Fasli, melalui Deklarasi Keluarga Indonesia tersebut mendorong terciptanya keluarga Indonesia yang berkualitas, dengan menyediakan waktu komunikasi antar orang tua dan anak.

“Jadi kedepan kebahagiaan keluarga tidak lagi diukur dari peningkatan ekonomi, tetapi kualitas hubungan antara anggota keluarga,” ujarnya.

 

EUIS SUNARTI

Membangun Ketahanan Keluarga dan SDM Indonesia Berkualitas